Posted by: duaribudua | June 5, 2008

Bagaimana Cara Kita Bahagia

Seorang lelaki berumur 92 tahun yang mempunyai selera tinggi, percaya diri, dan bangga akan dirinya sendiri, yang selalu berpakaian rapi setiap hari sejak jam 8 pagi, dengan rambutnya yang teratur rapi meskipun dia buta, masuk ke panti jompo hari ini.
Istrinya yang berumur 70 tahun baru-baru ini meninggal, sehingga dia harus masuk ke panti jompo.
Setelah menunggu dengan sabar selama beberapa jam di lobi, dia tersenyum manis ketika diberi tahu bahwa kamarnya telah siap. Ketika dia berjalan mengikuti penunjuk jalan ke elevator, aku menggambarkan keadaan kamarnya yang kecil, termasuk gorden yang ada di jendela kamarnya. Saya menyukainya, katanya dengan antusias seperti seorang anak kecil berumur 8 tahun yang baru saja mendapatkan seekor anjing. “Pak, anda belum melihat kamarnya, tahan dulu perkataan tersebut.”. “Hal itu tidak ada hubungannya”, dia menjawab.

“Kebahagiaan adalah sesuatu yang kamu putuskan di awal. Apakah aku akan menyukai kamarku atau tidak, tidak tergantung dari bagaimana perabotannya diatur tapi bagaimana aku mengatur pikiranku. Aku sudah memutuskan menyukainya. Itu adalah keputusan yang kubuat setiap pagi ketika aku bangun tidur.”

“Aku punya sebuah pilihan, aku bisa menghabiskan waktu di tempat tidur menceritakan kesulitan-kesulitan yang terjadi padaku karena ada bagian tubuhnya yang tidak bisa berfungsi lagi, atau turun dari tempat tidur dan berterima kasih atas bagian-bagian yang masih berfungsi.”

Setiap hari adalah hadiah, dan selama mataku terbuka, aku akan memusatkan perhatian pada hari yang baru dan semua kenangan indah dan bahagia yang pernah kualami dan kusimpan. Hanya untuk kali ini dalam hidupku. Umur yang sudah tua adalah seperti simpanan di bank. Kita akan mengambil dari yang telah kita simpan.

Ingat-ingatlah lima aturan sederhana untuk menjadi bahagia:

1. Bebaskan hatimu dari rasa benci.
2. Bebaskan pikiranmu dari segala kekuatiran.
3. Hiduplah dengan sederhana.
4. Berikan lebih banyak (give more)
5. Jangan terlalu banyak mengharap (expectless)

Posted by: duaribudua | June 3, 2008

Hujan Bulan Juni

Hujan Bulan Juni

Sapardi Djoko Damono

tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni

dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni

dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni

dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu

Posted by: duaribudua | May 30, 2008

Pesan-pesan Untuk Istri

Anas berkata, “Para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika menyerahkan seorang wanita kepada suaminya, maka mereka memerintahkan isteri agar berkhidmat kepada suaminya dan memelihara haknya.”

Ummu Humaid berkata, “Para wanita Madinah, jika hendak menyerahkan seorang wanita kepada suaminya, pertama-tama mereka datang kepada ‘Aisyah dan memasukkannya di hadapannya, lalu dia meletakkan tangannya di atas kepalanya seraya mendo’a-kannya dan memerintahkannya agar bertakwa kepada Allah serta memenuhi hak suami”[1]

‘Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib berwasiat kepada puterinya, “Janganlah engkau cemburu, sebab itu adalah kunci perceraian, dan janganlah engkau suka mencela, karena hal itu menimbulkan kemurkaan. Bercelaklah, karena hal itu adalah perhiasan paling indah, dan parfum yang paling baik adalah air.”

Abud Darda’ berkata kepada isterinya, “Jika engkau melihat-ku marah, maka redakanlah kemarahanku. Jika aku melihatmu marah kepadaku, maka aku meredakanmu. Jika tidak, kita tidak harmonis.”

Ambillah pemaafan dariku, maka engkau melanggengkan cintaku.Janganlah engkau berbicara dengan keras sepertiku, ketika aku sedang marah. Janganlah menabuhku (untuk memancing kemarahan) seperti engkau menabuh rebana, sekalipun. Sebab, engkau tidak tahu bagaimana orang yang ditinggal pergi

Janganlah banyak mengeluh sehingga melenyapkan dayaku
Lalu hatiku enggan terhadapmu; sebab hati itu berbolak-balik

Sesungguhnya aku melihat cinta dan kebencian dalam hati
Jika keduanya berhimpun, maka cinta pasti akan pergi

‘Amr bin Hajar, Raja Kindah, meminang Ummu Ayyas binti ‘Auf. Ketika dia akan dibawa kepada suaminya, ibunya, Umamah binti al-Haris menemui puterinya lalu berpesan kepadanya dengan suatu pesan yang menjelaskan dasar-dasar kehidupan yang bahagia dan kewajibannya kepada suaminya yang patut menjadi undang-undang bagi semua wanita. Ia berpesan:

“Wahai puteriku, engkau berpisah dengan suasana yang darinya engkau keluar, dan engkau beralih pada kehidupan yang di dalamnya engkau naik untuk orang yang lalai dan membantu orang yang berakal. Seandainya wanita tidak membutuhkan suami karena kedua orang tuanya masih cukup dan keduanya sangat membutuh-kanya, niscaya akulah orang yang paling tidak membutuhkannya. Tetapi kaum wanita diciptakan untuk laki-laki, dan karena mereka pula laki-laki diciptakan.

Wahai puteriku, sesungguhnya engkau berpisah dengan suasana yang darinya engkau keluar dan engkau berganti kehidupan, di dalamnya engkau naik kepada keluarga yang belum engkau kenal dan teman yang engkau belum terbiasa dengannya. Ia dengan ke-kuasaannya menjadi pengawas dan raja atasmu, maka jadilah engkau sebagai abdi, niscaya ia menjadi abdimu pula. Peliharalah untuknya 10 perkara, niscaya ini akan menjadi kekayaan bagimu.

Pertama dan kedua, tunduk kepadanya dengan qana’ah (merasa cukup), serta mendengar dan patuh kepadanya.

Ketiga dan keempat, memperhatikan mata dan hidungnya. Jangan sampai matanya melihat suatu keburukan darimu, dan jangan sampai mencium darimu kecuali aroma yang paling harum.

Kelima dan keenam, memperhatikan tidur dan makannya. Karena terlambat makan akan bergejolak dan menggagalkan tidur itu membuat orang marah.

Ketujuh dan kedelapan, menjaga hartanya dan memelihara keluarga dan kerabatnya. Inti perkara berkenaan dengan harta ialah menghargainya dengan baik, sedangkan berkenaan dengan keluarga ialah mengaturnya dengan baik.

Kesembilan dan kesepuluh, jangan menentang perintahnya dan jangan menyebarkan rahasianya. Karena jika engkau menyelisihi perintahnya, maka hatinya menjadi kesal dan jika engkau menyebar-kan rahasianya, maka engkau tidak merasa aman terhadap pengkhianatannya. Kemudian janganlah engkau bergembira di hadapannya ketika dia bersedih, dan jangan pula bersedih di hadapannya ketika dia bergembira”[2]

Seseorang menikahkan puterinya dengan keponakannya. Ketika ia hendak membawanya, maka dia berkata kepada ibunya, “Perintahkan kepada puterimu agar tidak singgah di kediaman (suaminya) melainkan dalam keadaan telah mandi. Sebab, air itu dapat mencemerlangkan bagian atas dan membersihkan bagian bawah. Dan janganlah ia terlalu sering mencumbuinya. Sebab jika badan lelah, maka hati menjadi lelah. Jangan pula menghalangi syahwatnya, sebab keharmonisan itu terletak dalam kesesuaian.”

Ketika al-Farafishah bin al-Ahash membawa puterinya, Nailah, kepada Amirul Mukminin ‘Utsman bin ‘Affan Radhitallahu ‘anhu, dan beliau telah menikahinya, maka ayahnya menasihatinya dengan ucapannya, “Wahai puteriku, engkau didahulukan atas para wanita dari kaum wanita Quraisy yang lebih mampu untuk berdandan darimu, maka peliharalah dariku dua hal ini: bercelaklah dan mandilah, sehingga aromamu adalah aroma bejana yang terguyur hujan.”

Abul Aswad berkata kepada puterinya, “Jangalah engkau cemburu, sebab kecemburuan itu adalah kunci perceraian. Berhiaslah, dan sebaik-baik perhiasan ialah celak. Pakailah wewangian, dan sebaik-baik wewangian ialah menyempurnakan wudhu.’”

Ummu Ma’ashirah menasihati puterinya dengan nasihat berikut ini yang telah diramunya dengan senyum dan air matanya: “Wahai puteriku, engkau akan memulai kehidupan yang baru… Suatu kehidupan yang tiada tempat di dalamnya untuk ibumu, ayahmu, atau untuk seorang pun dari saudaramu. Engkau akan menjadi teman bagi seorang pria yang tidak ingin ada seorang pun yang menyekutuinya berkenaan denganmu hingga walaupun ia berasal dari daging dan darahmu. Jadilah engkau sebagai isteri, wahai puteriku, dan jadilah engkau sebagai ibu baginya. Jadikanlah ia merasa bahwa engkau adalah segalanya dalam kehidupannya dan segalanya dalam dunianya. Ingatlah selalu bahwa suami itu anak-anak yang besar, jarang sekali kata-kata manis yang membahagia-kannya. Jangan engkau menjadikannya merasa bahwa dengan dia menikahimu, ia telah menghalangimu dari keluargamu.

Perasaan ini sendiri juga dirasakan olehnya. Sebab, dia juga telah meninggalkan rumah kedua orang tuanya dan meninggalkan keluarganya karenamu. Tetapi perbedaan antara dirimu dengannya ialah perbedaan antara wanita dan laki-laki. Wanita selalu rindu kepada keluarganya, kepada rumahnya di mana dia dilahirkan, tumbuh menjadi besar dan belajar. Tetapi dia harus membiasakan dirinya dalam kehidupan yang baru ini. Ia harus mencari hakikat hidupnya bersama pria yang telah menjadi suami dan ayah bagi anak-anaknya. Inilah duniamu yang baru, wahai puteriku. Inilah masa kini dan masa depanmu. Inilah mahligaimu, di mana kalian berdua bersama-sama menciptakannya.

Adapun kedua orang tuamu adalah masa lalu. Aku tidak me-mintamu melupakan ayah dan ibumu serta saudara-saudaramu, karena mereka tidak akan melupakanmu selama-lamanya. Wahai sayangku, bagaimana mungkin ibu akan lupa belahan hatinya? Tetapi aku meminta kepadamu agar engkau mencintai suamimu, mendampingi suamimu, dan engkau bahagia dengan kehidupanmu bersamanya.”

Diriwayatkan bahwa Ibnu Abi ‘Udzr ad-Du’ali -pada hari-hari pemerintahan ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu- menceraikan wanita-wanita yang dinikahinya. Sehingga muncullah kepadanya beberapa peristiwa yang tidak disukainya berkenaan dengan para wanita tersebut dari hal itu. Ketika dia mengetahui hal itu, maka dia memegang tangan ‘Abdullah bin al-Arqam sehingga membawanya ke rumahnya. Kemudian dia berkata kepada isterinya: “Aku memintamu bersumpah demi Allah, apakah engkau benci kepadaku?” Ia menjawab, “Jangan memintaku bersumpah demi Allah.” Dia mengatakan, “Aku memintamu bersumpah demi Allah.” Ia menjawab, “Ya.”

Kemudian dia berkata kepada Ibnul Arqam, “Apakah engkau dengar?” Kemudian keduanya bertolak hingga sampai kepada ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu lalu mengatakan, “Kalian mengatakan bahwa aku menzhalimi kaum wanita dan menceraikan mereka. Bertanyalah kepada al-Arqam.” Lalu ‘Umar bertanya kepadanya dan mengabarkannya. Lalu beliau mengirim utusan kepada isteri Ibnu Abi ‘Udzrah (untuk datang kepada ‘Umar). Ia pun datang bersama bibinya, lalu ‘Umar bertanya, “Engkaukah yang bercerita kepada suamimu bahwa engkau marah kepadanya?” Ia menjawab, “Aku adalah orang yang mula-mula bertaubat dan menelaah kembali perintah Allah kepadaku. Ia memintaku bersumpah dan aku takut berdosa bila berdusta, apakah aku boleh berdusta, wahai Amirul Mukminin?” Dia menjawab, “Ya, berdustalah. Jika salah seorang dari kalian tidak menyukai salah seorang dari kami, janganlah menceritakan hal itu kepadanya. Sebab, jarang sekali rumah yang dibangun di atas dasar cinta, tetapi manusia hidup dengan Islam dan mencari pahala”[3]

Posted by: duaribudua | May 29, 2008

Membaca Pikiran Lelaki

 

Dalam sebuah penelitian dihasilkan sebagai berikut:

Berbicara:

Wanita berbicara 6000 – 8000 kata/hari, menggunakan 2000 – 3000 suara tambahan, 8000 -10000 bahasa tubuh dan ekspresi wajah.

Sedangkan lelaki berbicara 2000-4000 kata /hari, menggunakan suara tambahan 1000-2000, dan 2000-3000 bahasa tubuh.

Subhanalloh y J .. Allohu Akbar !

 

Kondisi STRESS:

Wanita stres / dalam tekanan, dia akan berbicara tanpa berpikir.

Pria stres/dalam tekanan, dia akan berbuat tanpa berpikir.

Untuk itu, 90% yang ada di dalam penjara laki-laki.

Dan 90% yang mengalami terapi jiwa adalah wanita. (Naudzubillah y J )

 

HORMON:

Ketika lelaki memasuki usia 50-an dan 60-an, hormon testoteronnya menurun dan tidak begitu agresif lagi dan lebih bersikap mengasuh.

Bagi wanita, setelah menopause tingkat hormon estrogen menurun yang memberi mereka rasio hormon testoteron > hormon estrogen.

Inilah sebabnya kenapa wanita 45-50 tahun bisa mendadak berubah menjadi lebih tegas dan lebih percaya diri.

 

John Gray seorang ahli konsultasi keluarga berdasarkan penelitiannya menyimpulkan adanya perbedaan kebutuhan primer wanita dan pria :

  1. Wanita membutuhkan perhatian, pria membutuhkan kepercayaan
  2. Wanita membutuhkan pengertian, pria membutuhkan penerimaan
  3. Wanita membutuhkan rasa hormat, pria membutuhkan penghargaan
  4. Wanita membutuhkan kesetiaan, pria membutuhkan kekaguman
  5. Wanita membutuhkan penegasan, pria membutuhkan persetujuan
  6. Wanita membutuhkan jaminan, pria membutuhkan dorongan
Posted by: duaribudua | May 27, 2008

[Resensi] Robohnya Dakwah di Tangan Da’i

Judul : Robohnya Dakwah di Tangan Da’i

Penulis : Fathi Yakan

Penerbit : Intermedia

Tebal : 140 halaman

Buku ini berjudul asli Ihdzaru Al-Aids Al-Haraki, yang diterjemahkan menjadi : “Hati-hatilah Terhadap Aids Gerakan”. Maksudnya, agar kita hati-hati terhadap atau penyakit atau virus-virus yang membahayakan gerakan dakwah.

Ustadz Fathi Yakan, sebagai orang yang hidupnya dihabiskan di lapangan dakwah, melihat bahwa gerakan dakwah sesungguhnya telah demikian marak digerakkan para aktivitasnya. Lembaga dakwah dengan berbagai kecenderungan di mana-mana, baik yang secara formal maupun yang tidak formal. Semua itu tentu realitas yang menggembirakan. Namun bersamaan dengan maraknya gerakan dakwah itu muncul pula realitas lain yang potensial menghambat laju gerakan dakwah itu sendiri. Realitas itu banyak yang justru lahir dalam sendiri.

Ternyata umat belum bisa bersatu dalam mempersepsi persoalan. Keragaman itu lahir dari ragamnya cara pandang dan pemikiran tentang dakwah. Berikutnya gerakan dakwah pun hadir dalam format yang bermacam-macam, visi yang aneka warna, dan orientasi yang bervariasi, meskipun semua mengusung semangat Islam sebagai tujuan akhirnya.

Sebenarnya ragam pendapat dan pemikiran itu sendiri merupakan persoalan yang ada semenjak zaman dahulu. Para sahabat berbeda pendapat tentang beberapa persoalan dan Rasulullah tidah mengganggunya sebagai hal yang negatif. Rahasianya apalagi kalau bukan kenyataan bahwa Rasulullah SAW berhasil menanamkan prinsip akidah dan akhlah demikian kuat dalam dada hingga mampu menjadikan persoalan perbedaan pendapat sebagai realitas manusiawi yang tidak berpengaruh terhadap prinsip dasar itu. Itulah didikan Rasulullah SAW.

Tampaknya itulah yang kini menjadi barang langka. Biasanya sebuah gerakan dibangun pertama kali dengan landasan loyalitas kepada lembaga. Setelah itu bahkan pembinaan keislamannya secara murni tidak berlangsung dengan baik. Akhirnya fanatisme kepada golongan lebih dominan muncul daripada pembelaan terhadap akidah dan keimanan.

Orang sering berkata bahwa keragaman institusi Islam yang sekarang sebuah realitas positif belaka, agar menjadi media persaingan yang sehat. Sampai batas tertentu pendapat ini bisa dibenarkan. Namun realitas juga yang menjawab bahwa sungguh keragaman yang terus terjadi dan tak kunjung bisa disatukan ini telah melemahkan kekuatan Islam. Umat yang besar ini ternyata tidak dapat berbuat apa-apa menghadapi berbagai tentang besar yang dihasilkan dari konspirasi berbagai kekuatan. Tantangan itu hadir melalui wilayah kebudayaan, pemikiran, dan bahkan militer.

Inilah sebagian yang disorot oleh Syaikh Fathi Yakan dalam buku ini. Selain mengingatkan kita tentang beberapa ”virus” yang menggerogoti banngunan dakwah, penulis memberikan beberapa konsep solusi agar berbagai penyakit itu bisa diminimalisasikan, atau ditiadakan sama sekali.

Buku ini, meskipun bentuknya relatif kecil namun memuat pesan-pesan yang padat. Sebagaimana buku-buku beliau yang lain, buku ini menyajikan ulasan yang simpel dan jelas tentang beberapa persoalan konkret yang sungguh butuh menjadi perhatian para dai dan semua orang yang bekerja di ladang dakwah..[Pengantar Penerbit]

Posted by: duaribudua | May 22, 2008

Dari Walimahan Nayan

Orang bijak berkata Sebuah Gambar Bisa Mewakili Ratusan Kata-kata. Maka, biarlah gambar- gambar ini saja yang bercerita ke semuanya tentang keceriaan, kebahagiaan suasana di sukoharjo pada saat walimahan teman kita, Erna Yanti dan Marithu.

Nayan dan Suaminya

Nayan, Suami , Orang tua

) Nampang di PelaminanProsesi Akad Nikah

Posted by: duaribudua | May 18, 2008

Untuk Sahabat Kami, Ernayanti Nur Widhi

Ya Allah…

Dua hamba-Mu telah mematri janji dalam Mitsaqan Ghaliza di hadapan kebesaran-Mu.
tidak mudah untuk memelihara ikatan suci ini dalam naungan ridha dan maghfirah-Mu.
amat berat untuk mengayuh perahu rumah tangga, menghadapi taufan godaan..
Karena itulah, tunjukilah jalan yang lurus, jalan orang-orang yang lebih EngKau anugerahi kenikmatan
bukan-nya jalan orang-orang yang EngKau timpai kemurkaan
bukan pula jalan orang-orang yang EngKau tenggelam dalam kesesatan
Sinarilah hati mereka dengan cahaya petunjuk-Mu.
Terangilah jalan mereka dengan sinar taufik-Mu.
Kalau EngKau berkenan menganugerahkan nikmat-Mu atas mereka
bantulah mereka untuk banyak berdzikir dan bersyukur atas nikmat-Mu itu.
Hindari mereka dari orang-orang yang terlena dalam kemewahan dunia.
Lembutkan hati mereka untuk merasakan curahan rahmat-Mu.

Ya Allah,

Andai Kau berkenan limpahkanlah kepada mereka cinta yang Kau jadikan pengikat rindu Rasulullah dan Khadijah Al Jubra.
Yang Kau jadikan mata air kasih sayang Ali dan Fatimah Az Zahra.
Yang Kau jadikan penghias keluarga Rasul Mu yang suci

Ya Allah,

Jadikanlah mereka Suami & Istri yang saling mencintai di kala dekat,
Saling menjaga kehormatan dikala jauh,
Saling menghibur dikala duka,
Saling mendoakan dikala bahagia,
Saling mengingatkan dalam kebaikan dan ketaqwaan,
Serta saling menyempurnakan dalam ibadah.

Ya Allah,

Sempurnakanlah kebahagiaan mereka dengan menjadikan pertalian ini sebagai ibadah kepadaMu dan bukti pengikat dari cinta mereka kepada sunnah keluarga rasul Mu

Amin Ya Rabbal Alamin

Posted by: duaribudua | May 12, 2008

gadis yang memberikan matanya

HASAN BASHRI, Sebelum mendapat hidayah Allah, dia pemuda tampan yang hobi memamerkan ketampanannya. Suatu hari, ia melihat seorang gadis cantik. Tertariklah Hasan Bashri. Maka, ia buntuti gadis itu. Merasa dibuntuti, gadis itu menoleh seraya bertanya “Tidakkah kau malu?”

“Malu pada siapa?” tanya Hasan Bashri.

“Malu kepada Dzat Yang Maha Mengetahui; ada mata yang berkhianat dan sesuatu terlintas di hati.” jawab gadis itu.

Karena didorong rasa tertarik, Hasan Bashri bersikap masa bodoh. Terus saja ia buntuti kemana gadis itu pergi. Sekali lagi gadis itu menegur, “mengapa engkau membuntutiku?”

“Sungguh aku terpesona dengan matamu” jawab Hasan Bashri.

“Kalau begitu, tinggal di sini, nanti akan kukirim apa yang kau kehendaki,” ujar gadis itu.

Mendengar itu, Hasn Bashri girang. Dikiranya, gadis itu sudah terpikat. Tak lam kemudian datang seorang utusan membawa baki yang tertutup sapu tangan di tangannya. Setelah dibuka, Hasan Bashri mendapati dua mata dalam baki. Hasan Bashri terkejut bukan main. Melihat Hasan bashri terkejut, pelayan itu berkata, “Sesungguhnya Tuan Putri berkata demikian, ‘Aku tak ingin mataku membuat fitnah, menjadikan seseorang terpesona,’ lalu dia menyuruhku membawakan ini untukmu.”

Kenyataan itu benar-benar membuat Hasan Bashri bergetar, badannya panas dingin, tak lupa mengumpat-umpat diriya sendiri. Karena merasa berdosa, ia pun bertaubat kepada Allah, lalu pulang sambil menangis hingga malam, tiada henti.

Keesokan harinya, ia mendatangi rumah gadis itu untuk minta maaf. Tapi terlambat, gadis itu sudah meninggal dunia. Di malam ketiga sejak gadis itu meninggal, Hasan Bashri bermimpi berjumpa gadis itu yang sedang berada di surga. Masih dalam mimpinya, Hasan Bashri meminta maaf atas perbuatannya.

“semuanya telah aku halalkan, karena kau memperoleh kebaikan dari Allah karenamu,” ucap gadis itu.

“Berilah aku nasihat,” pinta Hasan Bashri.

“Jika engkau sendirian, berdzikirlah kepada Allah SWT, pada pagi dan petang, dengan beristighfar kepada Allah,” ujar gadis itu.

Nasihat itu dikerjakan Hasan Bashri hingga beliau dikenal sebagai seorang ahli ibadah.

Ukhtifillah, semoga kita dapat mengambil hikmah dari kisah di atas.

Wa Allahu a’lam..

Posted by: duaribudua | May 5, 2008

Meriahkan Dunia Dengan Menikah

Oleh : Ir. Drs. Abu Ammar, MM

Jakarta PeKa Online, Islam adalah agama yang syumul (universal). Agama yang mencakup semua sisi kehidupan. Tidak ada suatu masalahpun dalam kehidupan ini yang tidak dijelaskan. Dan tidak ada satupun masalah yang tidak disentuh nilai Islam, walau masalah tersebut nampak kecil dan sepele (ringan). Itulah Islam, agama yang memberi rahmat bagi sekalian alam. Read More…

Posted by: duaribudua | May 5, 2008

Agenda Dua Bulanan.. (??)

Assalaamu’alaikum
Bismillaahirrahmaanirrahiim
InsyaAllah akan menikah :

Marithu Repri Yasfani

dengan

Ernayanti Nur Widhi

Akad nikah :
Ahad, 18 Mei 2008
08.30 WIB
di Masjid Baiturrahmah
Jl. Slamet Riyadi No. 47, Sukoharjo

Walimatul ‘Ursy :
Ahad, 18 Mei 2008
09.30 – 12.00 WIB
Jl. Jendral Sudirman 200, Sukoharjo

Mohon doanya dari akhwat sekalian

Wassalam,

Marithu – Erna

« Newer Posts - Older Posts »

Categories