Alhamdulillah aku sudah menjadi ibu sekarang. Subhanallah begitu banyak pengalaman yang kurasakan mulai dari kehamilan, proses melahirkan hingga sekarang proses adaptasi seorang perempuan menjadi seorang ibu. Ingin sekali kuceritakan berbagai hal sejak lalu. Tapi karena selama hamil aku tetap kerja dan sampai rumah sudah tepar, jadi kupending dulu unforgatable moments yang ingin kutuangkan dalam ‘Diari Ummi’ ini.
Bukannya malah ingin menceritakan tentang dede kecil yang sekarang ada disampingku, atau pengalaman mengurus si kecil, sekarang aku ingin cerita tentang Sang Pemburu Lalat. Jadi ceritanya begini.. Tidak tahu mengapa, sejak dede Bara sudah dibawa ke my home sweet home di Serpong Tangerang Selatan, di rumah mulai bermunculan lalat. Eits, tapi lalat berdatangan bukan karena dede Bara lho. Mungkin karena sekarang sudah musim hujan, kadang panas terik, kadang hujan deras, jadi lalat-lalat berdatanglah ke rumah.
Lalat-lalat pun berdatangan tanpa ampun.
Dan dimana ada aksi, maka akan ada reaksi. Sang pemburu lalat pun datang. Beda dengan pemburu hantu atau Ghostbusters yang memiliki banyak gadgets, sang pemburu lalat beraksi dengan tangan kosong. Walaupun lalat terbang dengan kecepatan tinggi, sang pemburu lalat memiliki jurus-jurus jitu untuk menaklukkannnya. Memukul di saat lengahnya si lalat atau dengan memerangkap si lalat terlebih dahulu misal dengan korden jika si lalat sedang hinggap di dekat jendela. Sering aksinya harus dilakukan berkali-kali sampai akhirnya si lalat pun berhasil di lumpuhkan. Kadang pula dengan mata lelah karena kurang tidur, sang pemburu lalat dengan semangat 45 melakukan aksinya demi buah hati tersayangnya yaitu Bara. Yups, sang pemburu lalat itu adalah abinya Bara, suamiku tercinta.
Aku tahu bahwa abi sangat sayang dede bahkan sejak dede Bara masih dalam perutku. Buktinya abi selalu sabar mendengarkan curhatku via handphone dari kantor saat pinggang dan punggungku pegal dan ngilu. Abi juga selalu menyemangatiku di pagi hari untuk berangkat kerja. Abi juga setiap malam selalu menceritakan cerita untuk dede, membacakan Al Matsurat dan membacakan adzan atau iqomah sebelum shalat berjamaah berdua. Juga abi membantu perkerjaan rumah disaat aku terlihat tak berdaya di tempat tidur, istirahat. Belum lagi abi mendampingiku dari awal sampai akhir proses persalinan, membacakan surat-surat pada Al-Qur’an untuk menenangkanku saat kontraksi hingga akhirnya dede Bara keluar dari perutku. Pokoknya Super Dad deh. Alhamdulillah aku sudah mengalami dan merasakan perjuangan jihad seorang wanita yaitu melahirkan, yang Alhamdulillah pula bisa kujalani dengan baik dengan bantuan suamiku tercinta. Luv u hunnybunny!
Serpong, 22 Maret 2010
(re-post mustiawati.wordpress.com)
Ikut bahagia sis, saya selalu ingat wejanganmu waktu ana mo walimah setahun yg lalu, “Ban lihat saja nanti, suami kita akan jauh dari expectasi kita,klo anti minta 7, Alloh akan kasih 9 deh..”
Dan semua sudah teruji sist, jzkh ya
*menikmati gerakan janin 5 bulan di perut, sambil mendengar gending “Hasan Al Banna” -innalil ikhwani shorhan kullu ma fihi Hasan, la tas alni man bannahu innahul Banna Hasan
By: agung bani putri on October 1, 2010
at 7:00 am
ikut seneng denger commentnya baban “sudah teruji” xixixi
)
selamat juga untuk tia… yang telah berjuang melahirkan dan merawat dede bara,salam cium untuk dede bara
By: duaribudua on October 6, 2010
at 3:06 am
to ukhti baban: momen2 persalinan semakin dekat. Nikmati setiap detiknya ya. krn itu indah dan insya Allah menjadi ladang kita untuk berjihad. miss u..
to ukhti 2002: salam untuk ammah 2002. btw ini siapa ya?
By: tia on November 2, 2010
at 4:36 am