Setelah semua Tamunya mendapat seGelas Teh di tangan, Sang ustad mengatakan : “Jika kalian perhatikan, semua Gelas yang indah dan mahal telah diambil, yang tertinggal hanyalah gelas biasa dan yang murah saja. Meskipun normal bagi kalian untuk mengingini hanya yang terbaik bagi diri kalian,
tapi sebenarnya itulah yang menjadi sumber masalah dan stress yang kalian alami.”
“Pastikan bahwa Gelas itu sendiri tidak mempengaruhi kualitas teh yang ada. Dalam banyak kasus, itu hanya lebih mahal dan dalam beberapa kasus bahkan menyembunyikan apa yang kita minum. Apa yang kalian inginkan sebenarnya adalah Teh Manis tersebut bukan, bukanlah Gelasnya, namun kalian secara
sadar mengambil Gelas paling terbaik dan kemudian mulai memperhatikan Gelas Orang lain orang lain.”
“Sekarang perhatikan hal ini : Kehidupan bagai Teh Manis, sedangkan pekerjaan, uang dan posisi dalam masyarakat adalah Gelasnya. Gelas bagaikan alat untuk memegang dan mengisi kehidupan. Jenis Gelas yang kita miliki tidak mendefinisikan atau juga mengganti kualitas kehidupan yang kita hidupi. Seringkali, karena berkonsentrasi hanya pada gelas, kita gagal untuk menikmati Teh Manis hangat yang Tuhan sediakan bagi kita.”
Tuhan memasak dan membuat Teh Manis, bukan Gelasnya. Jadi nikmatilah Teh Manisnya, jangan Gelasnya. Sadarilah jika kehidupan kita itu lebih penting dibanding pekerjaan kita. Jika pekerjaan kita membatasi diri kita dan mengendalikan hidup kita, kita menjadi orang yang mudah diserang dan rapuh akibat perubahan keadaan. Pekerjaan akan datang dan pergi, namun itu seharusnya tidak merubah diri
kita sebagai manusia. Pastikan kita membuat tabungan kesuksesan dalam kehidupan selain dari pekerjaan kita.