Posted by: duaribudua | July 1, 2008

Sejenak Merenungi Diri

Sebelum Engkau Merenung…

Saudaraku, dalam hidup ini ada duka dan nestapa

Juga kan selalu ada perasaan suka dan bahagia

Dunia ini kan ditinggalkan semua yang menghuninya

Tapi kebanyakan kita tak jua kunjung menyadarinya

Bersabarlah engkau jika menghadapi suatu derita

Meskipun ia sangat berat dan teramat sulit terasa

Wahai pencari harta yang sibuk dengan duniawinya

Di akhirat, orang sengsara lebih baik keadaannya

Sampai kapankah kau kan terus mengumpulkan harta

Apa engkau menyangka haramu kekal selamanya

Kala kau lihat orang-orang nestapa di depan mata

Masihkah engkau berangan kan hidup kekal di dunia

Kau lihat rumah-rumah tinggal di pinggiran kota

Hanya gubuk kecil kumuh yang beratap daun rumbia

Kau pun melihat gaya hidup mereka yang berkuasa

Mereka tak peduli, mereka hanya bisa berkata-kata

Masih ada lagi orang yang gemar membangun istana

Entah dari mana mereka dapatkan harta itu semua

Bumi ini kelak akkan menyapu rata mereka semua

Mereka pun kembali tak punya seperti sedia kala

Namun kematian kan lebih cepat menjemput mereka

Maut pasti datang tiada yang sanggup menolaknya

Tanyakanlah pada bumi semua kejadian di atsnya

Juga pada kubur, tanyakan apa yang terjadi di dalamnya

Kalaulah bumi dan kubur berkata kenapa mereka ada

Niscaya manusia akan berlarian menghindari mereka

Berbohong pada orang lain, adalah hal yang biasa bagi sebagian orang. Tapi membohongi diri sendiri? Sungguh, suatu kebodohan yang sulit dimengerti. Sebab, sejatinya dia mengetahui hakekat yang sebenarnya. Iulah makanya, diperlukan suatu keberanian untk jujur pada diri sendiri. Karena tiada guna berbohong pada diri sendiri.

Jangan merasa menjadi seorang yang benar-benar mukmin, jika ternyata keimanan anda masih banyak kekurangan. Apalah artinya merasa sebagai muslim sejati, jika praktiknya anda belum menjadi muslim yang sebenarnya. Dan apakah anda merasa sebagai orang yang ikhlas, tawadhu’, bersyukur, sabar, tawakal, adil, beradab, bermanfaat bagi agama, dan berhati bersih?

Merenung jelas berbeda dengan melamun, apalagi menghayal. Orang merenung biasanya disertai dengan berfikir dan instrospeksi. Membuka lembaran yang telah lewat, mengoreksinya, dan merencanakan langkah ke depan yang lebih baik.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” ( Al Hasyr: 18 )

Terkadang, kita merasa sudah menjadi seorang mukmin yang benar-benart beriman. Namun, setelah kita mengetahui hakekat iman dan memahami kriteria mukmin yang sempurna, kita pun tersadar bahwa ternyata kita masih berada di simpang jalan. Kita msih perlu memperbaiki, meningkatkan, memperbarui, dan menjaga iman kita.

Pun, mungkin kita merasa sudah menjadi seorang muslim yang ikhlas, tawakal, beradab, sabar, tawadhu’, adil, dan seterusnya. Akan tetapi kita masih jauh panggang dari api. bahkan, tidak sedikit diantara kita yang sebelumnya merasa sudah bermanfaat bagi agama dan berhati bersih. namun, diri ini menjadi tercenung dan merenung, bahwa apa yang kita pahami dan lakukan belum sesuai harapan.

Apakah Saya Seorang Mukmin??

Apakah Saya Muslim?

Apakah Saya Ikhlas?

Apakah Saya Tawadhu’?

Apakah Saya Bersyukur?

Apakah Saya Sabar?

Apakah Saya Tawakal

Apakah Saya Beradab?

Apakah Saya Adil?

Apakah Saya Bermanfaat?

Apakah Saya Berhati Bersih?

Mari Sejenak Merenungi Diri

Sejenak Merenungi Diri, Syaikh Amin Muhammad Jamal, Pustaka Al-Kautsar

oleh-oleh dari Islamic Book Fair Semarang


Leave a response

Your response:

Categories